Welcome Ramadhan

Marhaban ya Ramadhan. Ramadhan atau bulan puasa telah tiba. Smua menyambut dengan gembira (kecuali orang - orang yang enggan berpuasa). Perayaan secara adat, misal megengan, grebeg raomadhon atau apapun namanya, dirayakan dengan meriah. Tasyakuran di masjid, musholla atau dor to dor hampir dilakukan smua umat islam.
Dalam melaksanakan ibadah puasa hampir semua aspek kehidupan yang berjalan disesuaikan dengan kegiatan puasa. Televisi yang biasanya hanya menayangkan sinetron - sinetron yang berisi intrik-intrik untuk menjatuhkan orang lain, pertengkaran, dendam, dan paercintaan ataupun yang berbau mistis, telah berubah menjadi sinetron - sinetron religi yang penuh dengan nilai - nilai islami. di sekolah diadakan pondok romadhon ataupun pesantren kilat. Warung - warung tutup di siang hari (kecuali warung yang buka separuh, saya sering menyebutnya warung ngedusi mayit sebab yang terlihat hanya kaki si penjual dan pembeli). Di Mal - mal terpasang slogan - slogam ramadhan.
Masjid, langgar dan mushallah selalu penuh dengan jamaah untuk menjalankan sholat(smoga saja tetap ramai selamanya). Ayat - ayat suci Alquran berkumandang dimana - mana (yang kadang terlalu malam dan keras sehingga menggangu yang istirahat untuk sahur). Orang yang berlebih harta berlomba - lomba untuk beramal.
Itulah kekuatan Ramadhan yang sedikit (mungkin hanya 0,000000000001%-nya saja) bisa kita rasakan tuk mengubah dunia menuju yang lebih baik. Entahlah apa yang akan kita lakukan kalau kita bisa melihat seluruh Rahmat dan power yang dilimpahkan Allah di bulan yang penuh maghfiroh ini.
Pertanyaan yang timbul apakah ini hanya akan menjadi rutinitas tahunan saja? Atau ada usaha dari kita untuk mencari apa sebenarnya yang tersembunyi dalam Ramadhan yang suci ini? Kenapa kita membaca Alquran harus menunggu ramadhan? Mengapa masjid penuh hanya awal ramadhan saja sedangkan menjelang akhir yang penuh malah mal-mal? Marilah kita bertanya pada diri kita sendiri dan merenungkan arti ramadhan yang sebenarnya, Ya Bror!

Add comment 6 September 2008

Zaman Materialisme

Langit yang cerah tanpa selembar awan putihpun membuat sore ini terasa panas meskipun matahari agak condong lengser ke barat. Ibu - ibu PKK RT 2 RW 4 kelurahan Rejo Makmur tampak asik ngobrol di rumah ketua RT sambil terus memainkan kibasan jurus kipasnya untuk mengusir gerah yang terus mendera,mereka tidak merasa tersiksa meskipun arisan di mulai sejam lagi. Arisan yang digelar tiap minggu sekali merupakan acara yang ditunggu - tunggu untuk ajang ngobrol ngalor - ngidul, rasan - rasan, ataupun pamer kekayaan dan keberhasilan para suami dan anak mereka.
“Anak ku sekarang sudah berhasil lho Jeng!” Kata Bu Ria, orang terpandang di rt tersebut yang juga istri seorang pegawai kejaksaan di kabupaten.
“Emang apa keberhasilannya bu? paling cuma dapat pacar anak orang kaya” kata bu Ambar, istri paka rt, yang dandanannya sedikit menor meskipun dia termasuk wanita cantik di lingkungan itu.
“Itu kan yang kemarin, sekarang dia sudah kerja di tempat papanya dan digaji tinggi, sebulan gajinya 10 juta belum termasuk tunjangan - tunjangan yang laennya”
“Hebat dong bu! Anakku juga gajinya segitu, dapat fasilitas mobil dan perumahan dari bosnya di perusahaan”, puji Bu Ratna.
“Iya anak bu RT juga kan sudah berhasil jadi orang, punya mobil, rumah mewah, istri cantik dan banyak lagi! ha…ha…ha…” kata bu ratna.
“jangan gitu ah!” Muka bu Rt sedikit memerah malu, karna memang anaknya punya istri dua.
Obrolan terus berlanjut dengan canda dan tawa meskipun diselingi olok - olok, tapi seperti sudah ada konsensus diantara mereka bahwa tidak boleh ada amarah dan rasa tersinggung yang berlebihan.
Obrolan itu berhenti seketika ketika Bu Zainab, guru madrasah dan ngaji di lingkungan mereka, datang tepat jam 4 sore, memang arisan dimulai jam 4.
“Baru datang Bu Zainab?” tanya bu Rt. “Iya maaf agak terlambat soalnya suami saya baru pulang dari kantor Depag kabupaten untuk ngambil gajinya yang terlambat.”
Bu Ratna nimbrung,”Hebat dong ambil gajinya di Kabupaten” sambil sedikit senyum yang gak jelas apa memuji atau menyindir.
“Ya namanya pegawai kontrak bu! ya ambilnya di sana”jawab Bu Zainab

* * *
Sering kita mendengar, atau bahkan kita sendiri yang mengucapkan, kalau ukuran seseorang menjadi “orang” adalah mereka yang benar - benar telah berhasil dan sukses dalam kehidupan diniawinya. Apa menjadi dokter, pagawai tinggi, pengusaha sukses, jaksa atau orang sukses yang lain berdasarkan harta , kekayaan, kekuasaan yang mereka miliki. Kita masih punya pemikiran atau perasaan bahwa mereka yang kaya akan merasa tentram lahir batin, damai dan nyaman. Itu hanya perasaan kita yang melihat orang yang kaya. saya yakin seyakin - yakinnya bahwa mereka tidaklah hidup senyaman dan sedamai yang kita pikirkan. Masih ada ukuran keberhasilan seseorang yang perlu dicapai yaitu keberhasilan “batin” yaitu perasaan menerima apa yang kita dapatkan adalah titipan semata, hal ini tentu tergantung pada kepercayaan dan agama masing - masing.
Jadi beranikahkita bertanya pada anak “Apa kamu mau jadi guru ngaji? Jadi ustad?”

Add comment 25 August 2008

This first time for me to write on blog

Ini pengalaman pertama dalam menulis di blog (katrok ya!). tapi katanya “better late than never” jadi tak apa terlambat yang penting terbit. ingin punya banyak teman di seluruh indonesia raya ini cita - cita koe

1 comment 21 August 2008

Halo dunia!

Welcome to Blogdetik.com. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

Add comment 21 August 2008


Categories

Links

Feeds